Yang Mulia Tuan Calon Presiden, kami disini hanyalah serumpun ilalang yang tumbuh disudut dusun dusun kecil disela percik air bening yang mengalir. Kau nampak berdiri dipuncak bukit mencakar langit. Gemuruh suaramu memecah keheningan pagi. Menebar nyanyian surga ke segala penjuru. Sekedar memikat hati belalang dan kupu-kupu.
Nada bicaramu seperti layang-layang. Melayang-layang dan tak membumi. Sedangkan kami adalah rumput ilalang, yang tak pernah tersentuh sama sekali. Sekian lama kami terjebak dalam kemiskinan. Musim berganti namun tak membawa arti. Bergelut dengan penderitaan dan kepedihan adalah santapan kami sejak pagi hingga petang hari. Mengais sebutir nasi dalam lapar dan dahaga, sudah biasa dan menjadi cerita sejak lama.
Pucuk pucuk daun tak lagi mampu bertunas. Mengering diterpa angin dan kemudian kandas. Batin kami ingin menjerit namun tak mampu terucap dari bibir kami yang terikat. Terbuai mimpi dalam tidur lelap, sampai kapankah kisah ini akan terus kami dendangkan? Sedangkan masih tergiang suaramu yang lantang. Laksana merindu setitik air hujan ditengah musim kemarau yang panjang.
Tuan Calon Presiden yang kami banggakan, bukan untuk sebongkah emas dan berlian, cukuplah bagi kami melihat anak-anak angsa tersenyum riang bermain bersama dihalaman, seperti mereka yang tinggal di singgasana kota. Tengoklah sebentar sawah ladang kami yang gersang. Peluklah kami yang menggigil dicekam kesulitan? Apakah ini memang sudah suratan takdir? Bahwa kami harus terus berada dititik nadir. Lihatlah diatas kasur papan di bilik belakang, anak-anak kami terkulai lemah, merintih pedih minta makan, disudut matanya menyimpan tangis, wajahnya sayu menahan perih. Nyanyian surgawi yang kau lantunkan hanyalah hiburan dibawah bulan purnama mengantarkan kami ke peraduan.
Esok pagi tiada lagi yang tersisa. Ayam jantan berkokok sebagai tanda bahwa hari telah menjelang pagi, malam panjang terlewat begitu saja. Kami terjaga dan tersadar dari mimpi, masih adakah pintu harapan yang terbuka? Untuk kami menyambut masa yang berbeda, tinggalkan jejak langkah yang telah lalu menuju gerbang kehidupan yang baru. Bila masih ada kesempatan untuk bicara izinkanlah kami menitipkan secarik pesan..
"Bolehlah kiranya tuan melesat terbang ke angkasa namun janganlah lupa mengajak kami turut serta"
Dari Seorang Pemuda di Negeri ini.
0 Comment:
Posting Komentar