Chrome Pointer
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Maret 2017

Kisah Soeharto yang Jarang Diketahui Orang, dari Ultimatum Bu Tien hingga Memeluk Pria

Presiden Soeharto menangis saat lengser 1998

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA -- Dalam sebuah upacara Golkar tahun 1996, Ny. Mien Sugandhi yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita duduk berdampingan dengan Ny. Tien Soeharto.

Tiba-tiba Ibu Tien berkata, "Tolong katakan kepada ... (ia menyebut salah seorang petinggi Golkar), agar Pak Harto jangan menjadi presiden lagi. Sudah cukup, sudah cukup. Beliau sudah tua."

"Lo, kalau begitu siapa yang mumpuni untuk menggantikan beliau?" Mien Sugandhi terkejut dan bertanya.

"Biarlah itu diserahkan dan ditentukan oleh Pemilu saja. Aku sudah tidak mau lagi. Aku mau pergi, aku lungo (pergi). Pokoke aku lungo," kata Ny. Tien.

Mien Sugandhi menyampaikan pesan itu kepada orang yang dimaksud, tetapi orang itu tak percaya.

April 1996 Ny Tien benar-benar pergi untuk selama-lamanya. Maret 1998 Pak Harto tetap dipilih menjadi presiden.

Perubahan memaksa Soeharto berhenti. Mien membatin, "Seandainya orang-orang yang dulu diberi pesan oleh Ibu Tien mendengarnya."

Tak selamanya Ny. Tien serius.

Brigjen Eddie M. Nalapraya, mantan wagub DKI, bercerita tentang pengalamannya sewaktu mendampingi Pak Harto memancing di Pelabuhan Ratu. Ketika mobil hendak berangkat, sang nyonya mengetuk kaca persis di posisi Eddie duduk.

"Siap! Saya Bu," kata Eddie setelah kaca diturunkan.

"Jangan memancing ikan yang rambutnya panjang ya!" pesan Ny. Tien.

Hubungan Eddie dan keluarga Soeharto terbilang dekat. Anak-anakSoeharto mudah merajuk kepadanya untuk memintakan izin bepergian kepada ayahnya.

Ketika Eddie melaporkan kenaikan pangkatnya, Ny. Tien Soehartolangsung mengambil sapu tangan dan mengelap bintang di pundak Eddie.

"Sungguh, saya terharu. Tidak ada pengawal lain yang diperlakukan seperti itu."

Lain kisah bersumber dari Des Alwi, tokoh pergerakan asal Bandaneira, Maluku. Des mengenal Soeharto ketika ditugasi oleh ayah angkatnya, Sutan Syahrir, untuk melakukan konsolidasi dengan sesama pemuda perjuangan setelah Indonesia merdeka.

Tahun 1949, saat di Yogyakarta, ia sering berdiskusi dengan para pemuda yang bermarkas di Pathuk. Di situlah ia mengenalSoeharto.

"Soeharto cukup akrab dengan pemuda setempat, Faisal Abdaoe, yang kala itu berusia 15 tahun. Saya mendengar suatu saat Soeharto mengajak Faisal naik mobil dan memarkirnya untuk mengamati gerak-gerik tentara Jepang di markas mereka di Malioboro.

Tiba-tiba mendekat tentara Jepang yang mencurigai mereka. Segera Soeharto melilitkan kain scarf yang dibawanya, lantas memeluknya seperti orang pacaran.

"Ha, ona aremaska (Hah, ada perempuan ya)?!' teriak serdadu itu sambil berlalu dari tempat itu," cerita Des Alwi.

Soal bahasa, Maftuh Basyuni menceritakan bahwa Pak Harto memiliki kemampuan bahasa Inggris yang bagus.

"Jangan salah. Memang kalau di PBB berbahasa Indonesia demi kebanggaan bangsa." Hal yang sama dikatakan oleh Amoroso Katamsi saat mengikuti aktivitas Pesiden Soeharto untuk melakukan pengamatan sebelum memerankan tokoh itu dalam Pengkhianatan G30S/PKI (Arifin C. Noer, 1984).

"Saat menjelaskan soal peternakan sapi di Tapos kepada tamu-tamu dari Australia, ternyata Pak harto berbicara sangat lancar dalam bahasa Inggris," kata Laksamana Pertama TNI ini.

Pak harto pun rajin mencatat. Setiap kunjungan ke daerah ia melengkapi diri dengan buku catatan. Seperti yang diceritakan Try Sutrisno saat melakukan kunjungan incognito selama dua pekan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Tak banyak yang tahu. Bahkan Panglima ABRI pun tidak. Hanya Komandan Paspampres, Komandan Pengawal, dr. Mardjono, dan seorang mekanik."

Rombongan tidak menginap di rumah kepala desa atau rumah penduduk. Namun tidur seadanya dan tidak ingin diketahui orang.

"Sangat prihatin tapi saya melihat Pak harto sangat menikmati perjalanan keluar masuk desa itu," cerita Try. Seluruh hasil kunjungan dicatat di buku yang selalu dibawa Pak Harto.

Masih banyak kisah-kisah menarik dan humanis dalam buku setebal 603 halaman dari tuturan 113 narasumber ini.  (Agus Surono) 

Minggu, 21 Februari 2016

FILOSOFI DAN MAKNA LOGO BEC'S EXECUTIVE STUDENT



Warna
Biru Tua
dipilih karena warna ini sejuk ketika dilihat bermakna bahwa   BESt harus menjadi penyejuk diantara mahasiswa Bogor EduCARE dalam arti BESt harus menjadi penengah dan mediasi diantar mahasisiwa
Biru Muda
Terang, bermakna bahwa BESt harus bisa menerangi setiap mahasiswa Bogor EduCARE dengan tauladan sikap dan prilaku yang baik
Hitam
Gelap, warna ini dipilih melambangkan Best yang tidak gelap akan ilmu dan pengetahuan dalam berorganisasi dan keseharian
Bentuk
Padi Melingkari Best
Mencerminkan bahwa BESt harus seperti ilmu padi, “semakin berisi semakin merunduk”, begitupun dengan BESt semakin banyak tugas dan tanggung jawab maka BESt haruslah bersikap rendah hati kepada siapapun yang ada di lingkungan Bogor EduCARE
Bendera Berkibar
Memiliki makna bahwa BESt harus senantiasa menegakan TATIB Bogor EduCARE

*Mohon agar logo ini bisa terus dipertahankan terus menerus dan diwariskan utnuk angkatan berikutnya, karena logo ini kami buat dengan banyak pertimbangan dan banyak harapan yang ada didalamnya.

Sabtu, 20 Februari 2016

Balloning



The first kind of air transportation was not a plane. It was a balloon. People traveled by ballon a hundred years before there were planes or jet aircraft. Those early days of balloning were exiting, but they were also dangerouse. Sometimes the ballons fell suddenly. Sometimes they burned. However, the danger did not stop the balloonist.
 
The first real baloon flight was in France in 1783. Two frenchmen, the Montgolfier brothers, made a ballon. They filled a very large clote and bag with hot air. Hot air is lighter than cold air, so it is goes up. The Montgolfiers hot air ballon went up 1,000 feet in the sky.

Later than same year, two other Frenchmen ascended in a basket under a balloon. They built a fire under the ballon to make the air hot. This made the balloon stay up in the air for a few hours. But their balloon was tied to the ground. So it could not go anywhere.

The first balloon flight was in Desember 1783. The balloon flew for twenty-five minutes of Paris. It traveled about five and one half miles. Fliying  a balloon is not like fliying a plane. The balloon has not engine and therefore no power of its own. The wind directs the ballon. It goes where the wind blows. The pilot can control only the altitude of the balloon. He or she can raise and lower the ballon to find the right wind direction. That is how a good pilot  controls where the balloon goes.

Soon balloonists tried longer flights. A major event in the history of ballooning was the first long flight over water. In 1785, an American and Frenchman flew over the English Channel. They left England on a cold, clear January day. After about an hour, their ballon began to descend toward the water. They threw out some equipment and food  to make the balloon lighter. The balloon  continued to fall, so they threw almost everything in the basket – even some of their clothes. Finally, after about three hours, they landed in France, cold but safe.

During the nineteenth century, ballooning became a popular sport. There were ballon races in Europe. Balloons were also used by scientists to study the air and by armies in wartime. After the airplane was invented, people lost interest in ballons. Planes were much faster and easier to control. But some people today still like to go up in balloons. High up in the balloons basket, they find quiet. They have a wonderful view of the world below.

Reading book page 72

Senin, 15 Februari 2016

HAL_HAL YANG BISA KAMU LAKUKAN UNTUK MEMPERINGATI HARI BADEN POWELL ALA PRAMUKA INDONESIA


Hai kakak-kakak. Apa kabar? Semoga selalu sehat ya. Hari ini kalender tahun masehi sudah menunjukkan di bulan Februari, sungguh tidak terasa rupanya bahwa sekarang kita sudah berada di bulan kedua di tahun 2016. Padahal rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru 2016, ya. Hehe


Ngomong-ngomong tentang bulan Februari, pasti ingat juga dong tanggal 22 Februari. Emang tanggal 22 Februari ada apa kak? Nah loh, masak gak tahu. Nih ya, kakak kasih tau, tanggal 22 Februari 159 tahun yang lalu itu, Bapak Pandu Dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell lahir di dunia. Jadi, biasanya tanggal 22 Februari itu diperingati sebagai Hari peringatan Baden Powell. 
Oiya, bener kak. Tanggal 22 Februari kan hari peringatan Baden Powell. Baru ingat saya. Lalu kegiatan-kegiatan apa saja yang bisa kita lakukan untuk memperingati hari baden powell ke 159 kak?

Kegiatan-kegiatan yang bisa kamu lakukan untuk memperingati hari baden powell sangat bervariasi. Tergantung kreatifitas dan innovasi kakak-kakak Pramuka di daerah nya. 
Tapi, sebagai bahan referensi, kakak akan berikan kegiatan positif- innovativ ala Pramuka Indonesia yang bisa kamu lakukan untuk memperingati hari Baden Powell ke 159. Simak baik-baik ya. 
1. Melaksanakan penanaman pohon/mangrove di kawasan-kawasan yang kira-kira layak untuk ditanami. Ingat dasa Dharma ke-2 yang berbunyi Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, kan? Nah, dengan menanam, kita telah berhasil berupaya membuat bumi Indonesia lebih baik. Jadi, peringatan hari Baden Powell nya dapet, pahala nya juga dapet. hihi

2. Melaksanakan lomba-lomba positif-innovatif. Seperti lomba mewarnai untuk tingkat peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD). Lomba daur ulang sampah, lomba karikatu, dan lomba-lomba positif lainnya.

3. Melaksanakan pawai karnaval mengelilingi desa atau kota di tempat mu. Ini sederhana saja konsep nya, pawai berkeliling dengan menggunakan atribut-atribut khusus yang telah disiapkan. Lebih bagus setelah karnaval ditambah dengan pementasan seni kreativitas para peserta karnaval. Wah, bakal seru nih.


Source from: https://www.instagram.com/gerakanpramuka/

Sabtu, 16 Januari 2016

SEJARAH SINGKAT HOTEL BIDAKARA JAKARTA





Hotel Bidakara Jakarta diresmikan sebagai hotel bintang empat pada tanggal 16 Desember 1998. Hotel ini terletak di Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 71-73 Jakarta Selatan. Dalam pelaksanaan operasionalnya, Hotel Bumi Karsa Bidakara berada dibawah pengawasan PT Mekar Prana Indah (MPI) yang juga mempunyai beberapa unit usaha yang berlokasi di Kompleks Bidakara – Jl. Jendral Gatot Subroto Kav 71-73, Pancoran Jakarta Selatan. Adapun unit usaha yang dimiliki oleh PT MPI antara lain perhotelan, pusdiklat, perkantoran, dan jasa umum.

Dengan berkembangnya kebutuhan akan ruang-ruang untuk pelatihan dan meeting maka unit Pusdiklat bergabung dengan unit Perhotelan sejak bulan Juli 2004 sampai dengan bulan Desember 2009. Sedangkan pada awal Januari 2010, Hotel dengan unit Pusdiklat dan PT MPI akhirya berpisah kembali, adapun pemisahan tersebut unit Pusdiklat dikelola oleh PT MPI dan untuk unit Hotel dikelola oleh PT HBB (Hotel Bumikarsa Bidakara). Walaupun untuk unit Hotel sudah berpisah dan dikelola oleh PT HBB, untuk pengawasan tetap dilakukan oleh PT MPI karena PT HBB merupakan anak perusahaan dari PT MPI. 

Dalam perkembangannya, Hotel Bidakara Jakarta yang menempati tanah bekas perumahan karyawan Bank Indonesia dengan luas 45 hektar, tampil  sebagai salah satu Hotel dengan produk dan layanan yang inovatif, yaitu bernilai tambah yang mendukung kegiatan bisnis  dan konvensi berbagai institusi pemerintahan dan swasta yang keberadaannya memiliki akses yang kuat terhadap lokasi Hotel Bidakara Jakarta. Hotel Bidakara Jakarta adalah hotel MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang memiliki fasilitas kamar berjumlah 174, terdiri atas 145 kamar Deluxe, 15 kamar Executive, 11 kamar Junior Suite, 1 kamar Moderate Suite, dan 2 kamar Family Suite. Fasilitas lainnya berupa 4 Outlet Restoran, Room Service 24 jam, Laundry, Kolam Renang, Pusat Kebugaran, Concierge, Karaoke, Salon dan 18 Ruang Pertemuan yang keseluruhannya difasilitasi dengan layanan internet berkapasitas 1 Mbps. Kemudian selain dari pada itu, sebagai Hotel Bisnis dan Konvensi, citra Hotel Bidakara Jakarta tentunya lekat dengan keberadaan 2 Ballroom, yaitu Birawa Assembly Hall (berkapasitas hingga 3000 orang) dan Auditorium Binakarna (berkapasitas hingga 1200 orang).

-- Digunakan sebagai BAB II dalam Laporan Praktik Industri Bogor EduCARE Angkatan 18 --